Viral Lagi, Klaim “Kompor Pulsa” Penemu Bobibos Disorot: Publik Pertanyakan Janji Teknologi Energi Murah
Konten video yang diunggah akun TikTok @99sofafurniture url https://vt.tiktok.com/ZSfehtkrq/ kembali membuka diskusi lama mengenai klaim teknologi alternatif yang pernah memantik antusiasme publik. Sosok Muhammad Ikhlas Thamrin—yang sebelumnya dikenal luas lewat proyek Bobibos, bahan bakar biodiesel dari jerami—kembali menjadi sorotan setelah cuplikan presentasinya tentang “kompor pulsa” beredar dan menuai komentar beragam.
Dalam video tersebut, Ikhlas Thamrin terlihat mendemonstrasikan sebuah alat memasak yang diklaim dapat bekerja tanpa gas dan tanpa listrik, melainkan menggunakan sistem berbasis “pulsa”—istilah yang hingga kini belum memiliki definisi teknis yang jelas di ruang publik. Ia menyebut penggunaan kompor ini diklaim hanya membutuhkan Rp4.000 untuk dua jam memasak.
Teks yang ditambahkan kreator video berbunyi:
“Jejak Digital Kompor Pulsa – Memasak Gak Butuh Gas, Gak Butuh Listrik”
“Orang yang Sama Dengan Founder Bobibos Biodiesel dari Jerami”
“Masih percaya dengan orang ini? Memangnya bisa masak pakai pulsa?”
Video tersebut menuai jutaan penayangan di berbagai platform dan memancing kembali diskusi publik mengenai janji-janji inovasi energi non-konvensional yang dulu sempat viral, termasuk Bobibos.
𝗕𝗼𝗯𝗶𝗯𝗼𝘀: 𝗛𝗮𝗿𝗮𝗽𝗮𝗻 𝗘𝗻𝗲𝗿𝗴𝗶 𝗔𝗹𝘁𝗲𝗿𝗻𝗮𝘁𝗶𝗳 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗣𝗲𝗿𝗻𝗮𝗵 𝗠𝗲𝗻𝗴𝗲𝗺𝘂𝗸𝗮
Beberapa tahun lalu, Bobibos sempat menjadi sorotan sebagai inovasi biodiesel berbahan baku jerami. Konsepnya sederhana: limbah pertanian dapat dikonversi menjadi bahan bakar yang lebih ramah lingkungan. Banyak pihak sempat memberikan apresiasi atas gagasan tersebut, terutama karena Indonesia memiliki produksi jerami yang sangat melimpah.
Namun, seperti banyak inovasi awal lainnya, Bobibos sampai hari ini belum berkembang menjadi industri besar yang dapat diukur performanya secara terbuka.
Sebagian pengamat energi mencatat bahwa:
Konversi jerami menjadi biodiesel secara teknis mungkin dilakukan, namun membutuhkan fasilitas reaktor, proses kimia, serta biaya pemurnian yang tidak sederhana.
Skalabilitas teknologi menjadi tantangan utama; banyak inovasi di tingkat demo atau prototipe tidak berlanjut karena biaya produksi tidak sebanding dengan harga pasarnya.
Minim publikasi ilmiah & audit teknologi membuat masyarakat sulit menilai kualitas inovasi tersebut.
Konteks ini membuat banyak warganet kini meninjau ulang klaim teknologi yang dikaitkan dengan sosok Ikhlas Thamrin.
𝐊𝐥𝐚𝐢𝐦 𝐊𝐨𝐦𝐩𝐨𝐫 𝐏𝐮𝐥𝐬𝐚: 𝐒𝐨𝐥𝐮𝐬𝐢 𝐌𝐚𝐬𝐚 𝐃𝐞𝐩𝐚𝐧 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐒𝐞𝐧𝐬𝐚𝐬𝐢 𝐒𝐞𝐬𝐚𝐚𝐭?
Konsep memasak tanpa gas dan tanpa listrik bukan hal baru di dunia inovasi energi. Beberapa teknologi telah dikembangkan, seperti:
kompor biomassa bertekanan,
kompor magnetik hybrid,
kompor pembakaran rendah emisi,
bahkan kompor tenaga surya.
Namun istilah “kompor pulsa” bukan bagian dari terminologi baku dunia energi. Tidak dijelaskan dalam presentasi tersebut bagaimana mekanisme pulsa bekerja, sumber energinya apa, dan bagaimana biaya Rp4.000 per dua jam dapat dicapai.
Hal inilah yang memicu undangan publik untuk mencari klarifikasi. Banyak warganet menilai bahwa klaim tersebut perlu diuji secara ilmiah, terutama jika dipasarkan sebagai solusi energi murah yang bersifat massal.
Di kolom komentar TikTok, sejumlah pengguna mengungkapkan keraguan mereka:
“Hehehehe kabarnya gimana itu kompor pulsaaa???”
“Bobibos mirip-mirip scam Nikuba.”
“Buzzer pertama mulai bertebaran, padahal di-support aja dulu.”
Menanggapi keramaian tersebut, sang kreator akun TikTok menulis bahwa unggahannya ditujukan agar masyarakat lebih kritis dan tidak cepat percaya dengan klaim teknologi yang belum diuji secara luas.
𝐅𝐞𝐧𝐨𝐦𝐞𝐧𝐚 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐃𝐢𝐠𝐢𝐭𝐚𝐥 𝐝𝐚𝐧 𝐊𝐞𝐤𝐞𝐜𝐞𝐰𝐚𝐚𝐧 𝐏𝐮𝐛𝐥𝐢𝐤 𝐭𝐞𝐫𝐡𝐚𝐝𝐚𝐩 𝐈𝐧𝐨𝐯𝐚𝐬𝐢 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐓𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐁𝐞𝐫𝐥𝐚𝐧𝐣𝐮𝐭
Munculnya kembali video kompor pulsa memperlihatkan bagaimana jejak digital dapat menjadi arsip kolektif masyarakat, termasuk janji-janji teknologi yang dulu viral namun tak terlihat perkembangannya.
Fenomena ini mirip dengan kasus sejumlah inovasi yang sempat mengemuka namun menimbulkan perdebatan:
Nikuba, mesin pengubah air menjadi bahan bakar kendaraan.
Kompor air, yang mengklaim mampu menyalakan api hanya dengan air garam.
Hybrid generator mini yang tidak pernah diproduksi massal.
Banyak dari inovasi tersebut memiliki elemen “wow factor” namun gagal melewati evaluasi sains atau uji publik jangka panjang.
Para pemerhati teknologi menilai bahwa ada pola berulang:
klaim sensasional, dukungan publik, demo terbatas, lalu inovasi menghilang tanpa laporan lanjutan.
Hal inilah yang membuat warganet sekarang bersikap lebih kritis ketika melihat klaim serupa beredar kembali.
𝐏𝐞𝐫𝐥𝐮 𝐓𝐫𝐚𝐧𝐬𝐩𝐚𝐫𝐚𝐧𝐬𝐢, 𝐔𝐣𝐢 𝐏𝐮𝐛𝐥𝐢𝐤, 𝐝𝐚𝐧 𝐏𝐮𝐛𝐥𝐢𝐤𝐚𝐬𝐢 𝐈𝐥𝐦𝐢𝐚𝐡
Beberapa pakar energi yang diwawancarai oleh media dalam berbagai kesempatan sering menekankan tiga hal untuk menilai klaim teknologi baru:
1. ᴜᴊɪ ʟᴀʙᴏʀᴀᴛᴏʀɪᴜᴍ ʏᴀɴɢ ᴅᴀᴘᴀᴛ ᴅɪᴠᴇʀɪꜰɪᴋᴀꜱɪ
2. ᴘᴜʙʟɪᴋᴀꜱɪ ɪʟᴍɪᴀʜ ᴀᴛᴀᴜ ᴘᴀᴛᴇɴ ᴅᴇɴɢᴀɴ ᴅᴇꜱᴋʀɪᴘꜱɪ ᴛᴇᴋɴɪꜱ ᴊᴇʟᴀꜱ
3. ᴅᴇᴍᴏɴꜱᴛʀᴀꜱɪ ꜱᴋᴀʟᴀ ɪɴᴅᴜꜱᴛʀɪ, ʙᴜᴋᴀɴ ʜᴀɴʏᴀ ᴠɪᴅᴇᴏ
Tanpa itu, publik akan sulit membedakan mana inovasi nyata dan mana hanya gimmick promosi.
𝐊𝐞𝐬𝐢𝐦𝐩𝐮𝐥𝐚𝐧: 𝐕𝐢𝐫𝐚𝐥 𝐋𝐚𝐠𝐢, 𝐏𝐮𝐛𝐥𝐢𝐤 𝐒𝐞𝐦𝐚𝐤𝐢𝐧 𝐃𝐞𝐰𝐚𝐬𝐚 𝐌𝐞𝐧𝐠𝐡𝐚𝐝𝐚𝐩𝐢 𝐊𝐥𝐚𝐢𝐦 𝐒𝐞𝐧𝐬𝐚𝐬𝐢𝐨𝐧𝐚𝐥
Munculnya kembali video kompor pulsa dari penemu Bobibos menunjukkan bahwa publik Indonesia kini lebih kritis dalam menghadapi klaim teknologi yang terdengar luar biasa. Jejak digital membuat setiap pernyataan dapat kembali muncul kapan saja dan diuji ulang kebenarannya.
Hingga kini, belum ada penjelasan resmi dari Ikhlas Thamrin mengenai viralnya video lama tersebut dan perkembangan terbaru dari inovasi yang pernah ia perkenalkan.
Namun satu hal tampak jelas dari reaksi publik:
𝐌𝐚𝐬𝐲𝐚𝐫𝐚𝐤𝐚𝐭 𝐦𝐮𝐥𝐚𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐮𝐧𝐭𝐮𝐭 𝐢𝐧𝐨𝐯𝐚𝐬𝐢 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐯𝐢𝐫𝐚𝐥, 𝐭𝐞𝐭𝐚𝐩𝐢 𝐣𝐮𝐠𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐛𝐮𝐤𝐚, 𝐭𝐞𝐫𝐮𝐣𝐢, 𝐝𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐫𝐛𝐮𝐤𝐭𝐢 𝐛𝐞𝐤𝐞𝐫𝐣𝐚 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐣𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚 𝐩𝐚𝐧𝐣𝐚𝐧𝐠.
Dalam video tersebut, Ikhlas Thamrin terlihat mendemonstrasikan sebuah alat memasak yang diklaim dapat bekerja tanpa gas dan tanpa listrik, melainkan menggunakan sistem berbasis “pulsa”—istilah yang hingga kini belum memiliki definisi teknis yang jelas di ruang publik. Ia menyebut penggunaan kompor ini diklaim hanya membutuhkan Rp4.000 untuk dua jam memasak.
Teks yang ditambahkan kreator video berbunyi:
“Jejak Digital Kompor Pulsa – Memasak Gak Butuh Gas, Gak Butuh Listrik”
“Orang yang Sama Dengan Founder Bobibos Biodiesel dari Jerami”
“Masih percaya dengan orang ini? Memangnya bisa masak pakai pulsa?”
Video tersebut menuai jutaan penayangan di berbagai platform dan memancing kembali diskusi publik mengenai janji-janji inovasi energi non-konvensional yang dulu sempat viral, termasuk Bobibos.
𝗕𝗼𝗯𝗶𝗯𝗼𝘀: 𝗛𝗮𝗿𝗮𝗽𝗮𝗻 𝗘𝗻𝗲𝗿𝗴𝗶 𝗔𝗹𝘁𝗲𝗿𝗻𝗮𝘁𝗶𝗳 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗣𝗲𝗿𝗻𝗮𝗵 𝗠𝗲𝗻𝗴𝗲𝗺𝘂𝗸𝗮
Beberapa tahun lalu, Bobibos sempat menjadi sorotan sebagai inovasi biodiesel berbahan baku jerami. Konsepnya sederhana: limbah pertanian dapat dikonversi menjadi bahan bakar yang lebih ramah lingkungan. Banyak pihak sempat memberikan apresiasi atas gagasan tersebut, terutama karena Indonesia memiliki produksi jerami yang sangat melimpah.
Namun, seperti banyak inovasi awal lainnya, Bobibos sampai hari ini belum berkembang menjadi industri besar yang dapat diukur performanya secara terbuka.
Sebagian pengamat energi mencatat bahwa:
Konversi jerami menjadi biodiesel secara teknis mungkin dilakukan, namun membutuhkan fasilitas reaktor, proses kimia, serta biaya pemurnian yang tidak sederhana.
Skalabilitas teknologi menjadi tantangan utama; banyak inovasi di tingkat demo atau prototipe tidak berlanjut karena biaya produksi tidak sebanding dengan harga pasarnya.
Minim publikasi ilmiah & audit teknologi membuat masyarakat sulit menilai kualitas inovasi tersebut.
Konteks ini membuat banyak warganet kini meninjau ulang klaim teknologi yang dikaitkan dengan sosok Ikhlas Thamrin.
𝐊𝐥𝐚𝐢𝐦 𝐊𝐨𝐦𝐩𝐨𝐫 𝐏𝐮𝐥𝐬𝐚: 𝐒𝐨𝐥𝐮𝐬𝐢 𝐌𝐚𝐬𝐚 𝐃𝐞𝐩𝐚𝐧 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐒𝐞𝐧𝐬𝐚𝐬𝐢 𝐒𝐞𝐬𝐚𝐚𝐭?
Konsep memasak tanpa gas dan tanpa listrik bukan hal baru di dunia inovasi energi. Beberapa teknologi telah dikembangkan, seperti:
kompor biomassa bertekanan,
kompor magnetik hybrid,
kompor pembakaran rendah emisi,
bahkan kompor tenaga surya.
Namun istilah “kompor pulsa” bukan bagian dari terminologi baku dunia energi. Tidak dijelaskan dalam presentasi tersebut bagaimana mekanisme pulsa bekerja, sumber energinya apa, dan bagaimana biaya Rp4.000 per dua jam dapat dicapai.
Hal inilah yang memicu undangan publik untuk mencari klarifikasi. Banyak warganet menilai bahwa klaim tersebut perlu diuji secara ilmiah, terutama jika dipasarkan sebagai solusi energi murah yang bersifat massal.
Di kolom komentar TikTok, sejumlah pengguna mengungkapkan keraguan mereka:
“Hehehehe kabarnya gimana itu kompor pulsaaa???”
“Bobibos mirip-mirip scam Nikuba.”
“Buzzer pertama mulai bertebaran, padahal di-support aja dulu.”
Menanggapi keramaian tersebut, sang kreator akun TikTok menulis bahwa unggahannya ditujukan agar masyarakat lebih kritis dan tidak cepat percaya dengan klaim teknologi yang belum diuji secara luas.
𝐅𝐞𝐧𝐨𝐦𝐞𝐧𝐚 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐃𝐢𝐠𝐢𝐭𝐚𝐥 𝐝𝐚𝐧 𝐊𝐞𝐤𝐞𝐜𝐞𝐰𝐚𝐚𝐧 𝐏𝐮𝐛𝐥𝐢𝐤 𝐭𝐞𝐫𝐡𝐚𝐝𝐚𝐩 𝐈𝐧𝐨𝐯𝐚𝐬𝐢 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐓𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐁𝐞𝐫𝐥𝐚𝐧𝐣𝐮𝐭
Munculnya kembali video kompor pulsa memperlihatkan bagaimana jejak digital dapat menjadi arsip kolektif masyarakat, termasuk janji-janji teknologi yang dulu viral namun tak terlihat perkembangannya.
Fenomena ini mirip dengan kasus sejumlah inovasi yang sempat mengemuka namun menimbulkan perdebatan:
Nikuba, mesin pengubah air menjadi bahan bakar kendaraan.
Kompor air, yang mengklaim mampu menyalakan api hanya dengan air garam.
Hybrid generator mini yang tidak pernah diproduksi massal.
Banyak dari inovasi tersebut memiliki elemen “wow factor” namun gagal melewati evaluasi sains atau uji publik jangka panjang.
Para pemerhati teknologi menilai bahwa ada pola berulang:
klaim sensasional, dukungan publik, demo terbatas, lalu inovasi menghilang tanpa laporan lanjutan.
Hal inilah yang membuat warganet sekarang bersikap lebih kritis ketika melihat klaim serupa beredar kembali.
𝐏𝐞𝐫𝐥𝐮 𝐓𝐫𝐚𝐧𝐬𝐩𝐚𝐫𝐚𝐧𝐬𝐢, 𝐔𝐣𝐢 𝐏𝐮𝐛𝐥𝐢𝐤, 𝐝𝐚𝐧 𝐏𝐮𝐛𝐥𝐢𝐤𝐚𝐬𝐢 𝐈𝐥𝐦𝐢𝐚𝐡
Beberapa pakar energi yang diwawancarai oleh media dalam berbagai kesempatan sering menekankan tiga hal untuk menilai klaim teknologi baru:
1. ᴜᴊɪ ʟᴀʙᴏʀᴀᴛᴏʀɪᴜᴍ ʏᴀɴɢ ᴅᴀᴘᴀᴛ ᴅɪᴠᴇʀɪꜰɪᴋᴀꜱɪ
2. ᴘᴜʙʟɪᴋᴀꜱɪ ɪʟᴍɪᴀʜ ᴀᴛᴀᴜ ᴘᴀᴛᴇɴ ᴅᴇɴɢᴀɴ ᴅᴇꜱᴋʀɪᴘꜱɪ ᴛᴇᴋɴɪꜱ ᴊᴇʟᴀꜱ
3. ᴅᴇᴍᴏɴꜱᴛʀᴀꜱɪ ꜱᴋᴀʟᴀ ɪɴᴅᴜꜱᴛʀɪ, ʙᴜᴋᴀɴ ʜᴀɴʏᴀ ᴠɪᴅᴇᴏ
Tanpa itu, publik akan sulit membedakan mana inovasi nyata dan mana hanya gimmick promosi.
𝐊𝐞𝐬𝐢𝐦𝐩𝐮𝐥𝐚𝐧: 𝐕𝐢𝐫𝐚𝐥 𝐋𝐚𝐠𝐢, 𝐏𝐮𝐛𝐥𝐢𝐤 𝐒𝐞𝐦𝐚𝐤𝐢𝐧 𝐃𝐞𝐰𝐚𝐬𝐚 𝐌𝐞𝐧𝐠𝐡𝐚𝐝𝐚𝐩𝐢 𝐊𝐥𝐚𝐢𝐦 𝐒𝐞𝐧𝐬𝐚𝐬𝐢𝐨𝐧𝐚𝐥
Munculnya kembali video kompor pulsa dari penemu Bobibos menunjukkan bahwa publik Indonesia kini lebih kritis dalam menghadapi klaim teknologi yang terdengar luar biasa. Jejak digital membuat setiap pernyataan dapat kembali muncul kapan saja dan diuji ulang kebenarannya.
Hingga kini, belum ada penjelasan resmi dari Ikhlas Thamrin mengenai viralnya video lama tersebut dan perkembangan terbaru dari inovasi yang pernah ia perkenalkan.
Namun satu hal tampak jelas dari reaksi publik:
𝐌𝐚𝐬𝐲𝐚𝐫𝐚𝐤𝐚𝐭 𝐦𝐮𝐥𝐚𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐮𝐧𝐭𝐮𝐭 𝐢𝐧𝐨𝐯𝐚𝐬𝐢 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐯𝐢𝐫𝐚𝐥, 𝐭𝐞𝐭𝐚𝐩𝐢 𝐣𝐮𝐠𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐛𝐮𝐤𝐚, 𝐭𝐞𝐫𝐮𝐣𝐢, 𝐝𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐫𝐛𝐮𝐤𝐭𝐢 𝐛𝐞𝐤𝐞𝐫𝐣𝐚 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐣𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚 𝐩𝐚𝐧𝐣𝐚𝐧𝐠.
Berita Terkait
Publik Tangerang Tekan Pengusutan Kasus Andrie Yunus, Soroti Dugaan Aktor Intelektual
penyiraman terhadap aktivis Andrie Yunus proses hukum dilakukan di peradilan umum demi transparansi dan akuntabilitas....
Pakar Soroti Kejanggalan Kasus Andrie Yunus: Dugaan “False Flag Operation” diciptakan
𝙎𝙖𝙮𝙖 𝙢𝙚𝙡𝙞𝙝𝙖𝙩 𝙨𝙚𝙤𝙡𝙖𝙝-𝙤𝙡𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙞𝙣𝙞 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙙𝙞𝙨𝙞𝙖𝙥𝙠𝙖𝙣 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙩𝙚𝙧𝙩𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙥 Pakar psikologi forensik Reza Indragiri ...
Picu Perdebatan Soal Framing Opini Publik Komentar Kombes Manang Soebeti soal Teror Air Keras terhadap Aktivis Andi Yunus.
Pernyataan keras dari Manang Soebeti, perwira dari Kepolisian Negara Republik Indonesia, yang mengecam pelaku dengan menyebut tindakan tersebut “kampungan”...